• 000.jpg
  • 001.jpg
  • 002.jpg
  • 003.jpg
  • 004.jpg
  • 005.jpg
  • 006.jpg
  • 007.jpg
 TriTunggal crop2
RT. Hardjoprakoso
R. Soenarto
Mertowardojo
R. Trihardono
Soemodihardjo

Soenarto Mertowardojo lahir pada tanggal 21 April 1899 di desa Simo, Kabupaten Boyolali, Surakarta sebagai putra keenam dari delapan bersaudara dari ayahnya yang bernama R. Soemowardojo. Pekerjaan R. Soemowardojo adalah mantri penjual.

Sebagai mantri penjual dengan pendapatan yang pas-pasan, sangatlah berat bagi R. Soemowardojo membesarkan 8 anak. Akan tetapi beliau ingin semua anaknya mendapat pendidikan yang baik. Oleh karena itu, ketika Soenarto berumur 7 tahun saatnya ia bersekolah, dititipkanlah Soenarto di saudara ayah atau ibunya yang tinggal di kota untuk bersekolah, karena di desa Simo saat itu belum ada sekolah.

Sejak itulah Soenarto harus berpisah dengan orang tua dengan dititipkan (ngenger) demi menuntut ilmu. Semua itu dijalankannya dengan didasari rasa patuh pada perintah orang tua. Perjalanan hidup di masa ngenger selama 15 tahun dengan berpindah-pindah tempat adalah berat bagi seorang anak. Akan tetapi, kehidupan itu diterimanya dengan tulus dan sabar, ia tidak pernah mengeluh pada orang tuanya layaknya seorang anak. Ia harus mengorbankan masa kanak-kanaknya dan harga dirinya. Dalam masa pengengeran itulah, rasa rindu kepada Tuhan mulai tumbuh. Ia ingin bertemu Tuhan, memohon keadilan-Nya.

Ketika Soenarto beranjak dewasa, keinginan mencari Tuhan semakin besar. Keadaan masa itu tidak memungkinkan ia menggali ilmu agama secara formal. Pengetahuan agamanya hanya di dapat dari surau ketika kecil di desa Simo, dan shalat dhaim yang diajarkan ibunya. Itu pula yang membawanya berguru pada orang yang semestinya tidak dijadikan guru. Oleh karena dari orang yang didatanginya, yang mengaku menjadi guru dan dapat memberi petunjuk, malah menuntunnya berjalan di jalan sesat dengan cara klenak-klenik (rahasia). Akhirnya beliau sadar dan memutuskan untuk tidak lagi mencari guru klenik. Juga sadar bahwa memang belum waktunya mendapat ilmu sejati.

Pada hari Ahad Pon, 14 Februari 1932, kira-kira pukul setengah enam sore, ketika Soenarto sedang duduk seorang diri di serambi rumahnya di Solo, beliau merenungkan kembali perjalananannya mencari ilmu sejati. Kemudian beliau menyadari bahwa proses yang benar hanyalah memohon tuntunan dan hidayah Allah yang Mahamurah, Mahaasih, Mahaadil. Beliau yakin akan diberi petunjuk asal memohon dengan sungguh-sungguh. Pertanyaan lain yang selalu bergema dalam hati adalah: “Apakah ilmu sejati itu menerangkan tentang akhir hidup, yaitu hidup sesudah mati? Apakah arti sorga dan neraka? Jika betul-betul ada, di manakah tempatnya?”

Kemudian beliau melaksanakan shalat dhaim. Dalam keadaan hening dan khusyuk beliau mendapat jawaban atas pertanyaan yang selalu bergema di hati. Jawaban diterima dalam hati sanubari berupa sabda sebagai berikut.

“Ketahuilah, yang dinamakan Ilmu Sejati ialah petunjuk yang nyata, yaitu petunjuk yang menunjukkan jalan benar, jalan yang sampai pada asal dan tujuan hidup.”

Pada waktu Soenarto menerima sabda yang pertama, di dalam hati bagaikan mengalir air dingin meresap di relung hati, badan terasa dingin, kemudian disusul rasa takut. Dengan termangu-mangu muncul pertanyaan dalam hati: “Siapakah gerangan yang bersabda tadi?” Tidak berapa lama pertanyaan pun terjawab dalam sabda yang kedua, sebagai berikut.

“Aku Suksma Sejati, yang menghidupi alam semesta, bertakhta di semua sifat hidup. Aku Utusan Tuhan yang abadi, yang menjadi Pemimpin, Penuntun, Guru yang sejati ialah Guru Dunia. Aku datang untuk melimpahkan sih anugerah Tuhan kepadamu berupa pepadang dan tuntunan. Terimalah dengan menengadah ke atas, menengadah yang berarti tunduk, sujud di hadapan-Ku.

Ketahuilah siswa-Ku, bahwa semua sifat hidup itu berasal dari Suksma Kawekas, Tuhan semesta alam, letak sembahan yang sejati ialah Sumber Hidup, yang akan kembali kepada-Nya. Sejatinya hidup itu Satu, yang abadi keadaannya dan meliputi alam seisinya.”

Setelah menerima sabda kedua, hati Soenarto tera-sa terang, diikuti rasa tenang, tenteram dan bahagia. Akan tetapi, ketika angan-angan, pikirannya kembali bekerja, rasa bahagia berganti menjadi rasa haru. Kemudian bersyukur kepada Tuhan, mengingat bahwa dirinya sebagai umat merasa belum suci, akan tetapi dianugerahi petunjuk dan tuntunan. Bergetarnya perasaan itu, menumbuhkan rasa ragu-ragu dan khawatir. Akhirnya dengan rasa “nalangsa” beliau memohon kepada Tuhan agar disucikan dari kekotoran dunia. Beliau pun kembali dalam keadaan hening, kemudian sabda kembali bergema dalam hati sanubarinya.

“Mengertilah engkau siswa-Ku!

Bahwa yang memegang ukuran dan timbangan itu adalah Aku, oleh karena itu: Jangan kecil hatimu jika ada yang tidak percaya kepadamu, jangan sakit hati jika ada yang menertawakan dan meremehkan dirimu, jangan waswas dan cemas jika ada yang menfitnah dirimu.

Aku melindungi dan menuntun sampai di kesejahtera-an semua umat yang berjalan di jalan rahayu, yang bernaung di bawah lindungan Pengadilan-Ku.

Aku tidak akan menegakan mereka yang mewakili karya-Ku.

Pepadang, ialah perintah wejangan-Ku sebarluaskanlah, dan berikanlah kepada siapa saja, pria-wanita, tua-muda, dengan tidak membeda-bedakan jenis bangsa dan derajat, yang membutuhkan pepadang dan tuntunan-Ku, tetapi ingat, jangan sekali-sekali dengan paksaan dan pamrih apa pun. Kewajiban yang luhur dan suci tersebut laksanakanlah dengan keikhlasan, kesabaran, dan pengorbanan.

Barang siapa mau mewakili karya-Ku, yaitu menye-barluaskan sabda-Ku, ialah sabda Tuhan dengan syarat-syarat yang telah Kuterangkan tadi, akan menerima sih anugerah Tuhan.

Siswa-Ku!

Nantikanlah sementara waktu, engkau Kuberi pembantu yang akan Kutunjuk mencatat semua perintah-Ku, yaitu:

1. Hardjoprakoso,

2. Soemodihardjo.

Calon siswa tersebut juga Kuutus menyebarluaskan pepadang perintah Tuhan yang Kubawa. Ingat, jangan sekali-kali kecil dan waswas hatimu. Engkau bertiga akan memikul karya yang agung; di kemudian hari banyak yang akan membantumu.

Sinar ajaran-Ku akan memancar memenuhi dunia.

Sekian dahulu perintah-Ku.”

Setelah Soenarto menerima sabda yang ketiga, rasa ragu-ragu, khawatir, dan waswas hilang. Dengan penuh rasa syukur dan percaya beliau menanti dengan sabar terwujudnya sabda Sang Guru Sejati.

Beberapa bulan kemudian, tepatnya tanggal 19 Mei 1932 R.T. Hardjoprakoso datang ke rumah R. Soenarto dan ternyata R.T. Hardjoprakoso mengenal R. Trihardono Soemodihardjo. Kemudian mereka bertemu bertiga pada tanggal 27 Mei 1932. Sejak itulah mereka menerima wejangan-wejangan (ajaran) yang disabdakan Sang Guru Sejati melalui R. Soenarto dengan disaksikan dan dicatat langsung oleh R.T. Hardjoprakoso dan R. Trihardono Soemodihardjo sampai dengan Januari 1933. Kini sabda-sabda itu terhimpun dalam pustaka Sasangka Jati.

Sejak menerima ajaran Sang Guru Sejati mereka menyebarluaskannya, sesuai dengan kehidupan mereka masing-masing. Saat itu R. Soenarto bekerja sebagai juru tulis di kantor Pengadilan Negri (Landraad) Solo, dan R.T. Hardjoprakoso bekerja sebagai Bupati Anom Mangkunegaran VII, sedangkan R. Trihardono Soemodihardjo bekerja di Percetakan Swastika, Solo. Setiap sebulan sekali pada malam bulan purnama mereka berkumpul untuk mendalami bersama sabda-sabda (ajaran) Sang Guru Sejati, diikuti oleh mereka yang ingin juga memahami ajaran itu. Mereka yang mendalami ajaran Sang Guru Sejati disebut sebagai siswa dari Guru Sejati. Semakin lama semakin banyak yang mengikuti pertemuan bulan purnama itu, mereka ingin menjadi siswa Sang Guru Sejati.

Kemudian ketika Indonesia yang baru saja merdeka dari penjajahan Jepang pada tahun 1945, masuk kembali Belanda untuk mencoba menduduki Indonesia. Dalam masa perjuangan melawan Belanda pada tahun 1949, larangan berkumpul pada malam hari diberlakukan (jam malam). Akan tetapi, siswa Sang Guru Sejati yang telah mendalami ajaran Sang Guru Sejati tetap berkumpul sebelum jam malam berlaku, untuk mendalami, berolah rasa tentang ajaran Sang Guru Sejati. Pada saat mereka berkumpul tanggal 20 Mei 1949 di rumah R. Soenarto, pukul 16.30 Sang Guru Sejati berkenan kembali bersabda melalui R. Soenarto disaksikan 7 orang siswa yang berkumpul sore itu. Sabdanya antara lain memerintahkan agar para siswa-Nya dihimpun dalam satu perkumpulan agar rukun (guyub). Perkumpulan itu bernama Paguyuban Ngesti Tunggal disingkat Pangestu.

Nasihat R. Soenarto Mertowardojo

Paguyuban Ngesti Tunggal (Pangestu) berkembang dengan munculnya Cabang-cabang Pangestu di daerah. Dalam kunjungan ke cabang-cabang beliau selalu memberi nasihat berdasarkan ajaran Sang Guru Sejati untuk membangun kesusilaan batin warga Pangestu. Nasihat beliau antara lain:

1. Asal dan tujuan akhir hidup

Asal hidup adalah dari Sumber Hidup, yaitu Suksma Kawekas, Allah Taala, Tuhan Yang Maha Esa, yang menciptakan alam semesta seisinya. Adapun tujuan akhir hidup ialah kembali ke Sumber Hidup. Asal dari Allah kembali kepada Allah (Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un). Hal itu berlaku bagi segenap umat yang mengerti akan syarat-syaratnya dan yang dilaksanakan berdasar kepercayaan (iman) kepada Allah.

2. Tujuan hidup

Tujuan hidup adalah hidup bahagia yang abadi dan akhirya kembali ke asal mula hidup. Adapun tujuan hidup ini dapat dicapai apabila syarat-syaratnya dimengerti dan dilaksanakan disertai pengorbanan.

3. Bekal hidup di dunia

Bekal hidup itu adalah ilmu pengetahuan lahir dan batin.

4. Kewajiban Hidup

Kewajiban hidup tersebut banyak sekali, namun jika diringkas ada lima hal.

4.1. Kewajiban hidup yang sangat penting itu adalah sebagai berikut.

Kita umat manusia, pria dan wanita, menjadi perantara untuk melaksanakan karsa Tuhan yang abadi, yaitu pria sebagai perantara turunnya Roh Suci, sedangkan wanita sebagai perantara untuk menerima dan mengandung turunnya Roh Suci. Kewajiban yang suci itu harus dilaksanakan dengan kesucian, kesusilaan, serta keutamaan watak (budi pekerti yang utama) berdasarkan rasa kasih sayang. Dalam menjalani hidup berumah tangga, pria-wanita (suami istri) harus hidup rukun dan selaras (harmonis) dalam ikatan kasih sayang yang sejati. Bilamana kewajiban hidup yang penting tersebut dijalani dengan cara demikian, maka hal itu berarti mendidik anak sebelum lahir. Di kemudian hari akan dikaruniai seorang putra yang susila, berwatak utama, berbudi luhur, luhur derajatnya, serta mulia hidupnya.

4.2. Kewajiban untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

4.3. Kewajiban terhadap tetangga dan ma-syarakat, yaitu dengan menciptakan ketenteraman serta kesejahteraan hidup bersama dengan bergotong royong dan saling membantu.

4.4. Kewajiban mengabdi kepada Negara, yaitu dengan menaati undang-undang Negara, menjaga ketenteraman dan keamanan Negara.

4.5. Kewajiban yang luhur dan suci, yaitu berbakti kepada Tuhan Sejati (Suksma Kawekas, Allah Taala), dengan menaati perintah dan menjauhi larangan Tuhan sebagaimana termaktub dalam kitab-kitab suci perintah Ilahi. Hal itu dilaksanakan berdasarkan kepercayaan bahwa kita umat manusia berada dalam kekuasaan hukum abadi, yaitu sifat Keadilan Allah.

AJARAN SANG GURU SEJATI

Ajaran Sang Guru Sejati intinya membangun jiwa luhur (watak utama) yang disebut Hasta Sila. Untuk mencapai watak Hasta Sila harus melaksanakan Jalan Rahayu dan menghindari Paliwara, yaitu lima pokok larangan Tuhan. Bagi orang yang ingin memiliki watak Hasta Sila, maka pengetahuan mengenai anatomi jiwa manusia perlu diketahui agar dapat memudahkan pelaksanaan Jalan Rahayu.

Pengetahuan tentang anatomi jiwa manusia merupakan bagian dari ajaran Sang Guru Sejati tentang “Terjadinya Alam Semesta dan Seisinya” (Gumelaring Dumadi). Secara ilmiah, ajaran Sang Guru Sejati tentang anatomi jiwa telah menjadi topik disertasi untuk memperoleh gelar Doktor dalam ilmu kedokteran pada Rijks Universiteit di Leiden pada tahun 1956 dengan judul: Indonesisch Mensbeeld als basis ener Psychotherapie atau Candra Jiwa Indonesia sebagai dasar pengobatan penyakit jiwa. Disertasi tersebut ditulis oleh Prof. Dr. Soemantri Hardjoprakoso. Beliau adalah seorang putra Indonesia, anggota Pangestu, dan siswa Sang Guru Sejati yang taat.

A. HASTA SILA

Hasta Sila terdiri dari 2 bagian: Tri Sila dan Panca Sila.

1. Tri Sila

Sikap jiwa manusia terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang harus dilaksanakan setiap saat adalah sadar, percaya, dan taat.

1) Sadar

Sadar artinya berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. Adapun keadaan Tuhan Yang Maha Esa disebut Tripurusa, yaitu keadaan satu yang bersifat tiga:

a. Suksma Kawekas (Tuhan Sejati), dalam bahasa Arab: Allah Taala.

b. Suksma Sejati (Pemimpin Sejati = Penuntun Sejati = Guru Sejati), Utusan Tuhan Yang Abadi.

c. Roh Suci (Manusia Sejati), yakni jiwa Manusia yang sejati.

2) Percaya

Percaya adalah tali penghubung hamba dengan Tuhan Yang Maha Esa. Semua manusia harus mengakui kekuasaan Tuhan dengan dasar percaya. Oleh karena tanpa rasa percaya tidak mungkin mengalir hidayah Tuhan kepada hamba-Nya. Semua yang tercipta di dunia ini atas kehendak dan kekuasaan Tuhan. Oleh karena itu, manusia harus menyerahkan segenap tuntunan hidupnya hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

3) Taat

Taat artinya melaksanakan semua perintah dan menjauhi larangan Tuhan Yang Maha Esa.

2. Panca Sila

Panca Sila adalah lima watak utama untuk menyucikan hati manusia agar dapat melaksanakan ketiga sikap jiwa yang disebut Tri Sila dengan sempurna dan dalam hidup bermasyarakat. Lima watak utama terdiri dari:

1) Rela

Rela artinya ketulusan hati dalam menyerahkan segala milik, hak, dan hasil karyanya kepada Tuhan dengan ikhlas. Seorang yang berwatak rela tidak lekat pada semua benda yang bisa rusak, tetapi bukan orang yang melalaikan kewajiban.

2) Narima

Narima artinya menerima dengan ketenteraman hati semua yang menjadi bagiannya. Tidak iri terhadap bagian yang diterima oleh orang lain, tidak serakah tetapi bukan orang yang enggan atau malas bekerja. Orang yang narima selalu bersyukur kepada Tuhan.

3) Jujur

Jujur adalah menepati janji atau kesanggupan, baik yang telah terucap maupun yang masih dalam batin. Seseorang yang tidak menepati kesanggupannya (niatnya) berarti mendustai batinnya sendiri. Apabila kesanggupan (niat) tadi telah terlahir dalam kata-kata tetapi tidak ditepati, berarti kebohongannya telah disaksikan oleh orang lain. Orang yang jujur teguh kepada kebenaran dan tidak berdusta.

4) Sabar

Sabar berarti berhati lapang, kuat menerima segala cobaan dan tidak mudah putus asa. Orang yang sabar berpandangan luas.

5) Budi Luhur

Budi luhur adalah jiwa yang telah dapat membabarkan keluhuran Tuhan, hanya dapat tercapai apabila seseorang telah memiliki keempat watak utama tersebut di atas.

B. JALAN RAHAYU

Guna mencapai watak Hasta Sila, manusia dituntut untuk berjalan di Jalan Rahayu dalam kehidupan sehari-hari, yaitu melaksanakan:

1. Paugeran Tuhan kepada Hamba

Paugeran merupakan hukum Tuhan untuk hamba, mengandung makna kesaksian hamba bahwa hanya Tuhan yang harus disembah dan pengakuan hamba kepada kekuasaan Tuhan. Makna hukum ini harus diresapi oleh hamba dalam melaksanakan kehidupannya di dunia.

2. Panembah

Panembah adalah wujud bakti hamba kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam melaksanakan panembah, hamba diberi kebebasan untuk melakukannya sesuai dengan agama dan kepercayaannya.

3. Budi Darma

Budi darma merupakan penjabaran kasih sayang kepada sesama hidup yang diwujudkan dengan memberi kebaikan/pertolongan secara ikhlas dan tanpa pamrih kepada siapa pun sesuai dengan kebutuhan yang ditolong dan sesuai dengan kemampuan yang menolong.

4. Mengekang Hawa Nafsu

Agar mampu melaksanakan ketiga kewajiban tersebut di atas, maka perlu dilandasi dengan pengekangan hawa nafsu untuk mencegah perbuatan yang tidak baik. Pengekangan hawa nafsu dilakukan antara lain dengan cara tapa brata atau puasa.

5. Budi Luhur

Budi luhur adalah semua perilaku atau perbuatan mulia, seperti: kasih sayang kepada sesama makhluk, rela, narima, jujur, sabar dan adil. Hal ini yang menjadi syarat agar tercapai kedamaian hati, ketenteraman dan kebahagiaan.

C. PALIWARA

Lima pokok larangan Tuhan yang harus dihindari adalah Paliwara, yaitu:

1. Jangan Menyembah Kepada Selain Allah

Jangan menyembah kepada yang bukan semestinya disembah, jangan mempertuhan yang bukan semestinya dipertuhan.

2. Berhati-hatilah Dalam Hal Syahwat

Sesungguhnya kewajiban pria dan wanita adalah melaksanakan kehendak Tuhan untuk menjadi perantara turunnya Roh Suci dalam meneruskan keturunan. Untuk meneruskan keturunan harus dilakukan dalam ikatan pernikahan yang sah dengan kesusilaan serta kasih sayang. Oleh sebab itu, manusia harus berhati-hati, jangan hanya sekadar mengejar kesenangan syahwat.

3. Jangan Makan atau Menggunakan Makan­an yang Memudahkan Rusaknya Badan Jasmani

Makanan atau minuman yang mengandung racun dan kebiasaan yang dapat menyebabkan rusaknya jiwa dan raga harus dihindari, misalnya: minuman beralkohol, narkoba dan kegemaran berjudi. Hal itu dapat membuat manusia lupa dalam melaksanakan kewajiban terhadap Tuhan.

4. Patuhilah Undang-Undang Negara dan Peraturannya

Kalifatullah adalah wakil Allah yang berkewajiban untuk mengatur segenap warga negara agar dapat hidup sejahtera dalam kebersamaan. Peraturan perundang-undangan yang dihasilkan kalifatullah senantiasa dibuat untuk kepentingan bersama, maka wajib dipatuhi oleh seluruh warga negara.

5. Jangan Bertengkar

Watak suka bertengkar itu sesung-guhnya perilaku orang yang tidak mempunyai kepercayaan yang benar, karena semua umat manusia berasal dari satu sumber hidup yaitu Tuhan yang Maha Esa. Oleh karena itu, seharusnya manusia senantiasa hidup bersama dalam kerukunan. Hindarkan semua perilaku yang menyebabkan pertengkaran atau merusak persatuan, seperti: iri hati, fitnah, aniaya, membicarakan kejelekan orang lain, dan rasa permusuhan. Berusahalah mawas diri sebelum mencari kesalahan orang lain.

Perlu diketahui bahwa ajaran Sang Guru Sejati tersebut bukanlah agama baru dan tidak bertentangan dengan ajaran agama yang nyata-nyata dari wahyu Ilahi. Ajaran Sang Guru Sejati justru dapat memperdalam ajaran agama.

Ajaran Sang Guru Sejati jika diringkas mengandung enam hal pokok sebagai berikut.

1.  Mengingatkan semua umat yang lupa akan kewajiban suci, yaitu mereka yang ingkar (murtad) akan perintah Allah.

2.  Menunjukkan jalan benar ialah jalan utama yang berakhir dalam kesejahteraan, ketente-raman, dan kemuliaan abadi.

3.  Menunjukkan jalan simpangan yang berakhir dalam kegelapan.

4.  Menunjukkan larangan Tuhan yang harus dihindari, jangan sampai dilanggar.

5.  Menunjukkan adanya hukum abadi

6.  Menerangkan tentang dunia besar dan dunia kecil, ialah semesta alam seisinya.